NUSANTARA – PT Pakuwon Jati Tbk bersikap sangat hati-hati dalam melanjutkan pembangunan superblok Pakuwon Nusantara senilai Rp5 triliun di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN) akibat belum terbentuknya ekosistem pasar yang memadai.
Meskipun sebagian lahan proyek ini telah difungsikan sebagai Bus Interchange, kepastian kelanjutan investasi besar tersebut masih menjadi tanda tanya besar di tengah lambatnya proses migrasi penduduk ke wilayah tersebut.
Pengembang properti raksasa ini tampaknya enggan berspekulasi lebih jauh dan memilih memantau perkembangan nyata perpindahan Aparatur Sipil Negara (ASN) sebelum mengguyurkan modal lebih lanjut.
Kekhawatiran akan rendahnya tingkat hunian dan aktivitas ekonomi di jantung ibu kota baru menjadi alasan logis di balik mandeknya progres fisik proyek terpadu yang dirancang untuk kawasan komersial tersebut.
Kondisi ini mencerminkan tantangan nyata bagi otoritas IKN dalam meyakinkan investor swasta bahwa infrastruktur ibu kota bukan sekadar proyek fisik tanpa penghuni.
Tanpa adanya kepastian jumlah populasi yang signifikan dalam waktu dekat, proyek megah seperti Pakuwon Nusantara berisiko menjadi investasi mati yang membebani neraca keuangan perusahaan.





