JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memberikan sinyal kuat akan melakukan perombakan atau reshuffle kabinet saat memasuki tahun kedua masa jabatannya di Jakarta guna mengevaluasi jajaran menteri yang kinerjanya diklaim sudah terbukti.
Langkah ini dinilai oleh berbagai pengamat sebagai pengakuan implisit atas ketidakefektifan susunan menteri saat ini yang mungkin lebih kental dengan nuansa akomodasi politik daripada kompetensi profesional.
Keputusan melakukan perombakan di waktu yang relatif singkat ini memicu pertanyaan kritis mengenai konsistensi kebijakan nasional serta risiko terganggunya program kerja kementerian yang baru saja berjalan.
Publik kini menanti apakah momentum tahun kedua ini benar-benar didasari oleh objektivitas kinerja atau sekadar strategi untuk mengatur ulang bagi-bagi kekuasaan di lingkaran koalisi pemerintahan.





