KUPANG – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengklaim bahwa sebanyak 86 persen infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini telah berhasil dipulihkan untuk menopang koordinasi darurat.
Meskipun demikian, sisa 14 persen jaringan yang masih lumpuh memicu tanda tanya besar mengenai efektivitas dan kecepatan respons pemerintah dalam menangani kerusakan infrastruktur vital di wilayah rawan bencana.
Meutya menegaskan bahwa pemantauan terus dilakukan secara intensif guna memastikan jalur komunikasi warga tidak lagi terputus di tengah situasi krisis ini.
Namun, pemerintah seharusnya tidak hanya terpaku pada angka pemulihan, melainkan wajib mengevaluasi mengapa infrastruktur komunikasi begitu rentan hingga mudah lumpuh saat diguncang gempa.
Ketergantungan masyarakat pada sinyal digital membuat lambatnya pemulihan di titik-titik sisa berpotensi menghambat distribusi bantuan dan memperparah isolasi bagi korban yang berada di area pelosok.
Publik kini menanti langkah konkret kementerian dalam membangun jaringan yang lebih resilien agar kendala komunikasi tidak terus menjadi masalah klasik yang berulang setiap kali bencana melanda Indonesia.





