JAKARTA – Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan mengerahkan Mobil Klinik Hewan Keliling untuk memberikan layanan kesehatan gratis di berbagai titik pemukiman Jakarta Selatan sepanjang pekan ini guna menekan risiko penyakit zoonosis.
Langkah jemput bola ini mengharuskan para dokter hewan beradaptasi menangani beragam pasien, mulai dari kucing, kambing, hingga hewan eksotis seperti iguana, di tengah keterbatasan fasilitas mobilitas.
Meski terlihat solutif, program ini memicu kritik mengenai standar sterilisasi dan prosedur medis yang dilakukan di dalam ruang kendaraan yang sangat terbatas dibandingkan dengan fasilitas di Puskeswan.
Kehadiran layanan yang menangani spesies bervariasi dalam satu tempat memicu kekhawatiran terkait kontaminasi silang dan keamanan prosedur medis darurat.
Dokter hewan di lapangan memang mendapatkan pengalaman baru dengan menangani hewan ternak dan peliharaan sekaligus, namun ruang gerak yang sempit di dalam mobil dinilai menghambat akurasi tindakan medis yang membutuhkan ketenangan tinggi.
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar apakah program tersebut benar-benar fokus pada kualitas penyembuhan atau sekadar mengejar target kuantitas pelayanan demi pelaporan administratif semata.
Pemerintah Kota Jakarta Selatan perlu mengevaluasi kembali apakah alokasi anggaran operasional klinik keliling ini sudah sebanding dengan dampak kesehatan hewan jangka panjang di masyarakat.
Ketimbang sekadar memamerkan variasi hewan yang bisa ditangani, penguatan infrastruktur permanen dan edukasi pemilik hewan jauh lebih krusial untuk keberlanjutan kesehatan lingkungan.
Tanpa transparansi data kesembuhan dan pengawasan standar operasional yang ketat, layanan keliling ini berisiko hanya menjadi seremonial belaka yang mengabaikan aspek kesejahteraan hewan yang paling mendasar.




