JAKARTA – Pemerintah Indonesia resmi mengalokasikan anggaran fantastis sebesar Rp17 triliun untuk program bantuan pangan beras yang menyasar 33 juta penerima manfaat di seluruh penjuru negeri hingga akhir tahun ini demi menekan gejolak harga.
Langkah masif dengan membagikan sekaligus 30 kg beras per penerima ini memicu kritik tajam mengenai efektivitas jangka panjang dalam mengatasi akar masalah ketahanan pangan yang tidak kunjung usai.
Gelontoran dana jumbo tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terkait potensi kerawanan logistik dan akurasi data penerima yang kerap kali menjadi celah penyimpangan di lapangan.
Publik kini mempertanyakan apakah kebijakan instan ini murni untuk kesejahteraan rakyat atau sekadar strategi populis yang mengabaikan solusi kedaulatan pangan berkelanjutan bagi petani lokal.




