KUALA LUMPUR – Kuala Lumpur dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT Internasional Energi Berkelanjutan (ISES) pada 11-12 Agustus 2026 guna memfasilitasi dialog dan kolaborasi energi lintas negara di tengah ancaman krisis iklim global.
Meskipun digadang-gadang sebagai platform strategis, forum ini memicu skeptisisme publik terkait efektivitasnya dalam menghasilkan kesepakatan yang benar-benar mengikat dan bukan sekadar rutinitas diplomasi tahunan.
Kekhawatiran muncul bahwa pertemuan besar ini hanya akan menjadi ajang ‘greenwashing’ bagi negara-negara peserta tanpa ada langkah konkret untuk memutus ketergantungan pada energi fosil secara signifikan.
Keberhasilan KTT ini tidak boleh lagi diukur dari kemegahan acara atau panjangnya naskah kesepakatan, melainkan pada implementasi nyata transisi energi yang berdampak langsung pada kelestarian lingkungan.



