PALANGKARAYA – Tragedi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Kalimantan kembali merenggut nyawa warga dan memicu gelombang kritik atas kegagalan sistemik pemerintah dalam melakukan mitigasi bencana.
“Karhutla sudah memakan korban, suami saya,” ungkap seorang istri korban dengan penuh duka di tengah kepungan asap pekat yang masih menyelimuti pemukiman di sekitar lahan yang membara.
Kematian warga sipil ini memicu sorotan tajam terhadap kebijakan pemerintah yang justru berencana membubarkan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) pada akhir tahun 2024.
Langkah pembubaran lembaga khusus tersebut dianggap sebagai pengkhianatan terhadap upaya pelestarian lingkungan sekaligus bukti nyata rendahnya komitmen negara dalam melindungi rakyat dari ancaman krisis iklim yang kian mematikan.





