PALANGKA RAYA – Warga di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, khususnya kelompok rentan seperti lansia, ibu menyusui, dan bayi, kini terpaksa berjuang bertahan hidup di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin mencekik sejak beberapa hari terakhir.
Kondisi kualitas udara di wilayah tersebut telah melampaui ambang batas ‘bahaya’ dan mendekati kategori beracun, menunjukkan kegagalan sistemik dalam mitigasi bencana lingkungan yang terus berulang tanpa solusi permanen.
Krisis udara bersih ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan dampak nyata dari lambannya penanganan titik api serta lemahnya pengawasan terhadap pembukaan lahan secara ilegal.
Masyarakat kini dipaksa menghirup partikulat berbahaya tanpa adanya jaminan perlindungan kesehatan yang memadai dari pemerintah, menjadikan ungkapan ‘kami harus berjuang’ sebagai simbol keputusasaan rakyat di tengah kelalaian otoritas.





