SAMARINDA – Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda melakukan langkah antisipasi terhadap ancaman kekeringan dengan mengoptimalkan pengoperasian enam bendungan utama dan 44 titik sumur dalam di wilayah Provinsi Kalimantan Timur pada musim kemarau tahun ini.
Langkah teknis ini diambil guna memastikan stabilitas pasokan air baku bagi masyarakat serta sektor pertanian di tengah fluktuasi cuaca ekstrem yang mulai mengancam ketahanan air daerah.
Namun, kebijakan optimalisasi ini menuai sorotan kritis terkait sejauh mana efektivitas infrastruktur yang ada dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang kian tak menentu.
Ketergantungan pada 44 titik sumur dalam juga memicu kekhawatiran mengenai degradasi muka air tanah jika pemanfaatannya tidak dibarengi dengan skema konservasi lingkungan yang ketat di sekitar daerah tangkapan air.
Publik menuntut transparansi mengenai kondisi debit riil enam bendungan tersebut, mengingat penurunan volume air sering kali terjadi lebih cepat dari prediksi saat puncak kemarau melanda.
Tanpa adanya integrasi antara pembangunan infrastruktur fisik dan perlindungan ekosistem hulu, upaya pengoptimalan bendungan dan sumur bor ini dikhawatirkan hanya menjadi solusi jangka pendek yang reaktif terhadap ancaman krisis air di masa depan.





