JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar menginstruksikan para imam dan pemimpin agama di Jakarta untuk menggunakan pendekatan teologis guna menyadarkan masyarakat akan urgensi menjaga lingkungan hidup demi keberlanjutan masa depan.
Langkah ini diambil sebagai respons darurat mengingat tingkat kerusakan alam saat ini telah mencapai ambang batas yang sangat membahayakan keselamatan ekosistem secara global.
Namun, penggunaan bahasa agama ini dinilai masih bersifat normatif dan berisiko hanya menjadi retorika jika tidak dibarengi dengan tindakan tegas pemerintah dalam menghentikan kebijakan eksploitatif yang merusak alam.
Masyarakat kini menanti apakah seruan moral dari mimbar agama mampu memberikan dampak nyata bagi kelestarian bumi atau sekadar menjadi pengalihan atas lemahnya penegakan hukum lingkungan.





