SEMARANG – Semarang – Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi dan Kebijakan Publik, Ismail Cawidu, melontarkan kritik tajam terhadap pola kerja Humas Kementerian Agama di daerah yang dianggap masih terjebak pada rutinitas pelaporan kegiatan seremonial tanpa esensi dampak bagi publik.
Kritik tersebut disampaikan dalam pertemuan di Semarang sebagai desakan untuk segera mengubah orientasi publikasi dari sekadar memajang aktivitas pimpinan menjadi komunikasi kinerja yang mampu membuktikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Ismail menilai bahwa model pemberitaan yang hanya menampilkan rangkaian acara formal sudah tidak lagi relevan dan gagal menjawab tantangan transparansi publik di era digital.
Transformasi ini menuntut jajaran humas untuk keluar dari zona nyaman ‘asal bapak senang’ dan mulai menyusun narasi yang berbasis pada hasil nyata, bukan sekadar memenuhi kuota rilis harian yang sering kali minim substansi.
Perubahan drastis ini menjadi ujian besar bagi birokrasi Kemenag untuk membuktikan apakah mereka benar-benar melayani kepentingan masyarakat atau hanya sibuk membangun citra internal melalui dokumentasi kegiatan semata.





