SEOUL – Sejumlah anak muda di Seoul, Korea Selatan, belakangan ini mulai mengadopsi cara unik namun ekstrem untuk berhemat dengan menggunakan aplikasi digital placebo guna mensimulasikan aktivitas memesan makanan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
Tren ini muncul sebagai respons atas tekanan ekonomi yang tinggi, di mana para pemuda mencoba memuaskan hasrat konsumtif mereka melalui interaksi digital semu tanpa ada transaksi riil yang terjadi.
Aplikasi ini memungkinkan pengguna melewati seluruh proses memilih menu hingga melakukan ‘checkout’, namun pesanan tersebut tidak akan pernah sampai ke rumah karena tujuannya hanya untuk memberikan kepuasan psikologis sesaat.
Penggunaan simulasi belanja ini dianggap sebagai pelarian bagi mereka yang ingin merasakan euforia berbelanja di tengah keterbatasan finansial yang kian menjepit generasi muda di Negeri Ginseng.
Namun, fenomena ini justru mengundang kritik tajam karena dianggap mencerminkan realitas pahit mengenai krisis kesejahteraan dan kesehatan mental yang menghantui anak muda.
Alih-alih menjadi solusi ekonomi yang fundamental, ketergantungan pada digital placebo hanya memperlihatkan ketidakmampuan generasi sekarang dalam menghadapi tekanan sosial untuk terus mengonsumsi barang dan jasa di tengah resesi yang nyata.
Tren konsumsi semu ini dikhawatirkan akan mengaburkan literasi keuangan yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat luas.
Masyarakat perlu waspada terhadap dampak jangka panjang dari kebiasaan ini, karena pelarian digital tidak akan pernah bisa memperbaiki kondisi dompet maupun stabilitas ekonomi negara dalam jangka panjang.


