RI-Belarus Perluas Kerja Sama Alat Berat, Ambisi Baterai Nasional Diragukan?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat membahas potensi kerja sama industri alat berat dan pupuk dengan delegasi Belarus. (Foto: RSS)

JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto resmi memperluas kerja sama strategis dengan Belarus di sektor industri alat berat dan pupuk dalam pertemuan bilateral di Jakarta baru-baru ini. Langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan industri nasional, meski menuai sorotan tajam terkait urgensi pemilihan mitra dagang di tengah ketidakpastian situasi geopolitik global saat ini.

Dalam kesepakatan tersebut, Airlangga mendorong Belarus untuk beralih ke elektrifikasi alat berat dengan memanfaatkan teknologi baterai penyimpanan asal Indonesia. Namun, ambisi ini dinilai terlalu prematur oleh sejumlah pengamat industri karena ekosistem baterai dalam negeri masih dalam tahap pengembangan awal dan belum teruji sepenuhnya untuk mendukung beban kerja manufaktur alat berat yang masif.

“Yang kita bisa dorong adalah kalau mereka mau elektrifikasi dari alat berat, nah itu bisa menggunakan baterai storage dari Indonesia,” ungkap Airlangga dalam keterangannya. Kritik muncul karena skema kerja sama ini dikhawatirkan hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar bagi produk jadi Belarus, tanpa adanya komitmen transfer teknologi yang nyata untuk kemandirian industri manufaktur tanah air.