JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto secara terbuka meminta para kader Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta untuk tidak menyapanya dengan sebutan Eyang atau Mbah, melainkan lebih memilih panggilan Bang atau Kang guna mempertahankan kesan akrab dan muda.
Permintaan yang dikemas dalam bentuk kelakar ini dinilai kritikus sebagai upaya berkelanjutan dalam membangun personal branding yang kontras dengan usia biologisnya yang telah menginjak kepala tujuh.
Langkah semacam ini dianggap sebagai taktik distraksi yang mengedepankan aspek semantik dan kosmetik politik ketimbang menunjukkan wibawa kenegaraan yang substantif di hadapan publik.
Alih-alih fokus pada urgensi persoalan bangsa, obsesi terhadap label panggilan ini justru mempertegas kuatnya ketergantungan pemerintah pada citra populis demi menjaga basis dukungan emosional generasi muda.





