JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tampak tertawa lepas saat menyaksikan lomba impersonate dirinya dalam rangkaian Festival Bung Karno di Jakarta baru-baru ini.
Acara hiburan tersebut menampilkan sejumlah peserta yang secara berani menirukan gaya bicara hingga gestur khas Presiden ke-5 RI tersebut dengan balutan humor yang provokatif.
Namun di balik keriuhan tawa tersebut, ajang ini mengundang kritik tajam mengenai pergeseran substansi politik yang kini lebih mengedepankan gimik daripada gagasan strategis.
Alih-alih menjadi ruang dialektika pemikiran Bung Karno, panggung festival justru tampak terjebak dalam glorifikasi personalitas melalui komedi yang berpotensi mengaburkan isu-isu kerakyatan yang lebih mendesak.
Penggunaan humor memang efektif untuk melunakkan citra elite di mata publik, namun masyarakat perlu tetap kritis apakah ini sekadar upaya memoles citra demi kepentingan elektoral semata.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana panggung politik nasional semakin sering menggunakan sentimen emosional untuk mengikat basis massa melalui tontonan yang menghibur namun minim esensi.





