Kritik Pemberdayaan Ekonomi Pesantren Kaltim: Inovasi atau Beban Baru?

Kegiatan pembinaan wirausaha santri di salah satu pesantren di Samarinda sebagai bagian dari program Sharia Kaltimpreneurs. (Foto: RSS)

SAMARINDA – Kementerian Agama bersama Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur menginisiasi program Sharia Kaltimpreneurs di Pondok Pesantren Salafiyah Nurul Amin Samarinda untuk mengintegrasikan kemandirian ekonomi dengan pendidikan karakter santri.

Langkah ini bertujuan memberikan ruang bagi santri agar memiliki keterampilan wirausaha sebagai bekal nyata setelah lulus dari lingkungan pesantren.

Namun, ambisi menjadikan pesantren sebagai pusat ekonomi baru di Kaltim patut dicermati secara kritis terkait keberlanjutan program jangka panjang dan potensi pergeseran fokus kurikulum agama.

Tanpa pengawasan yang ketat, dikhawatirkan orientasi bisnis justru akan membebani manajemen pesantren serta mengabaikan kualitas literasi keagamaan yang menjadi marwah utama institusi tersebut.

Keberhasilan integrasi ekonomi ini sangat bergantung pada sejauh mana pemerintah memberikan pendampingan pasca-pelatihan, bukan sekadar menjadikannya proyek seremonial tahunan.

Publik menunggu apakah produk hasil karya santri mampu bersaing secara profesional di pasar luas atau hanya terjebak dalam ekosistem internal yang terbatas.

Tanya Disini?
Mr. Fact AI
×
Halo Sahabat! 👋 Mau tau info berita apa hari ini?

💡 Pilih kategori atau tanya langsung soal berita yang lagi viral. Saya akan jelaskan singkat!