JAKARTA – Pemerintah Indonesia didorong untuk segera menerapkan kebijakan capital control modern guna membentengi stabilitas ekonomi nasional dari gempuran arus modal spekulatif yang sering memicu volatilitas pasar keuangan di Jakarta belakangan ini.
Langkah strategis ini dianggap mendesak untuk memastikan arus modal yang masuk benar-benar memberikan dampak positif bagi pembangunan jangka panjang dan bukan sekadar keuntungan sesaat.
Skema kontrol modal masa kini harus mampu secara cerdas membedakan antara investasi asing langsung yang bersifat produktif dengan modal portofolio jangka pendek yang berisiko tinggi.
Kritik muncul karena selama ini Indonesia dinilai terlalu rentan terhadap fenomena “hot money” yang dapat ditarik keluar sewaktu-waktu sehingga memperlemah fundamental ekonomi secara tiba-tiba.
Efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada kemampuan otoritas dalam mengelola regulasi tanpa mematikan minat investor global secara keseluruhan.
Pengawasan yang lemah hanya akan menjadikan instrumen ini sebagai formalitas birokrasi yang gagal meredam gejolak nilai tukar rupiah di pasar internasional.
Kedaulatan ekonomi hanya bisa dicapai jika pemerintah memiliki keberanian untuk mengatur lalu lintas modal dengan pengawasan yang lebih ketat dan kritis.
Pemerintah harus bertindak tegas sebelum ketergantungan pada spekulan asing semakin dalam merusak tatanan pasar domestik.





