NUSANTARA – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) resmi mengoperasikan 22 sensor deteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah delineasi IKN untuk mempercepat respons mitigasi bencana berbasis teknologi.
Pemasangan jumlah sensor yang tergolong minim ini mengundang kritik tajam karena dinilai tidak sebanding dengan luasnya cakupan wilayah hutan yang harus diproteksi dari ancaman api secara menyeluruh.
Efektivitas teknologi canggih tersebut dipastikan bakal sia-sia jika koordinasi personel di lapangan masih lambat serta infrastruktur pendukung pemadaman darat belum sepenuhnya memadai di titik rawan.
OIKN ditantang untuk membuktikan bahwa digitalisasi ini bukan sekadar gimik teknologi hijau, melainkan sistem yang benar-benar mampu mencegah bencana kabut asap secara konkret di ibu kota baru.




