NEW YORK – Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York resmi mengadopsi peta dunia baru yang menampilkan ukuran benua Afrika secara akurat guna menggantikan proyeksi tradisional yang dianggap mendistorsi realitas geografis.
Langkah ini diambil untuk mengoreksi bias sejarah dari proyeksi Mercator yang selama berabad-abad secara tidak proporsional mengecilkan wilayah-wilayah di belahan bumi selatan.
Namun, kebijakan ini mengundang kritik tajam karena dianggap hanya sebagai langkah kosmetik yang tidak menyentuh akar permasalahan ketimpangan kekuasaan global.
Para pengamat menilai bahwa perubahan visual pada peta tidak akan secara otomatis memperbaiki posisi tawar politik atau kondisi ekonomi negara-negara Afrika yang masih terpinggirkan.
Keadilan kartografi memang penting, tetapi tanpa komitmen nyata dalam reformasi kebijakan internasional, peta baru ini dikhawatirkan hanya menjadi retorika diplomatik tanpa dampak substansial.
Publik kini mempertanyakan apakah PBB akan menindaklanjuti pengakuan geografis ini dengan redistribusi pengaruh yang lebih adil bagi negara berkembang di meja perundingan dunia.

