SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) saat ini tengah memacu percepatan transformasi ekonomi melalui kebijakan hilirisasi industri dari sebelumnya yang bergantung pada ekspor batu bara mentah menuju pengembangan industri metanol di Sangatta demi mengejar nilai tambah ekonomi daerah.
Namun, langkah ambisius ini memicu pertanyaan kritis terkait kesiapan infrastruktur pendukung dan risiko apakah keuntungan ekonomi tersebut benar-benar akan terdistribusi secara merata kepada masyarakat lokal atau hanya menguntungkan korporasi besar.
Peralihan ke industri metanol dinilai masih terjebak dalam pola pikir ekstraktif yang rentan terhadap fluktuasi pasar global serta berpotensi memperpanjang jejak kerusakan lingkungan yang selama ini menghantui wilayah Kalimantan Timur.
Tanpa pengawasan ketat dan peta jalan transparan, klaim transformasi ini dikhawatirkan hanya menjadi narasi pemanis untuk melegitimasi eksploitasi sumber daya alam yang terus berlanjut dengan kemasan baru.





