JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan alasan krusial mengapa investor manufaktur global lebih melirik Vietnam dibandingkan Indonesia dalam sebuah pernyataan di Jakarta baru-baru ini.
Ia menyebutkan bahwa ketimpangan harga lahan menjadi penghambat utama, di mana harga tanah di Vietnam hanya dipatok sekitar Rp600 ribu per meter persegi.
Kenyataan ini menjadi kritik tajam bagi iklim investasi tanah air yang masih terbebani oleh spekulasi harga tanah yang tidak terkontrol.
Meskipun pemerintah gencar mempromosikan kemudahan perizinan, biaya fundamental seperti pengadaan lahan yang mahal tetap menjadi tembok besar bagi ambisi industrialisasi nasional.
Jika Indonesia tidak segera mereformasi regulasi lahan di kawasan industri, posisi negara akan terus tergerus oleh daya saing Vietnam yang jauh lebih efisien dalam memikat modal asing.





