CILEGON – Krakatau Steel (KRAS) mengklaim percepatan hilirisasi baja akan memperkuat posisi perusahaan sebagai tulang punggung industri nasional melalui sinergi strategis dengan pemerintah. Namun, langkah ini mengundang skeptisisme terkait kesiapan finansial internal. Di tengah ambisi hilirisasi, KRAS masih dibayangi beban utang restrukturisasi yang masif dan efisiensi operasional yang belum optimal. Tanpa perbaikan fundamental, hilirisasi berisiko menjadi proyek mercusuar yang justru memperlebar defisit arus kas perusahaan di tengah gempuran produk baja impor murah dari Tiongkok yang terus mendominasi pasar domestik secara kompetitif.
Motivasi percepatan ini diduga kuat didorong oleh tekanan target pemerintah untuk menekan defisit neraca perdagangan sektor logam. Namun, siapa yang paling diuntungkan? Sinergi ini lebih terlihat sebagai upaya mengamankan dukungan fiskal berkelanjutan daripada murni efisiensi pasar. Data menunjukkan beban bunga utang KRAS masih menjadi ganjalan serius bagi daya saing. Keberhasilan hilirisasi bergantung pada perlindungan tarif yang ketat, bukan sekadar klaim sinergi. Tanpa proteksi pasar yang konkret, investasi besar di sektor hilir hanya akan menguntungkan kontraktor luar negeri.





