Jambi Terjebak Migas: Mesin Uang atau Ancaman Ekonomi Jangka Panjang?

Instalasi migas di Jambi yang memicu perdebatan mengenai keberlanjutan ekonomi pasca-tambang. (Foto: economy.okezone.com)

JAMBI – Industri hulu migas, khususnya melalui PetroChina, diklaim sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi Jambi melalui kontribusi bagi hasil dan CSR. Namun, ketergantungan berlebihan pada sektor ekstraktif seringkali menyamarkan kerentanan struktur ekonomi daerah. Klaim pertumbuhan ini bersifat semu jika hanya mengandalkan komoditas tanpa diversifikasi sektor lain. Risikonya, ketika cadangan menipis atau harga pasar global anjlok, stabilitas fiskal Jambi terancam runtuh. Peningkatan angka PDRB belum tentu mencerminkan kesejahteraan merata bagi masyarakat lokal di sekitar wilayah tambang yang terdampak kerusakan lingkungan permanen.

Motif percepatan investasi migas ini lebih menguntungkan pemerintah pusat dan korporasi multinasional daripada keberlanjutan lokal. Data menunjukkan ketimpangan antara nilai eksploitasi kekayaan alam dengan perbaikan kualitas hidup jangka panjang penduduk Jambi. Penyerapan tenaga kerja lokal seringkali terbatas pada level operasional rendah, sementara keuntungan besar mengalir keluar. Transisi energi global juga membuat investasi fosil menjadi aset terlantar di masa depan. Tanpa strategi keluar yang jelas, Jambi hanya menjadi ‘sapi perah’ yang ditinggalkan saat sumber daya habis dan kerusakan ekologis menetap.