Kritik Program ATENSI Kemensos di Jombang: Kemandirian atau Sekadar Seremonial?

Perwakilan DWP Kemensos saat memantau hasil kerajinan tangan penyandang disabilitas dalam program ATENSI di Jombang. (Foto: RSS)

JOMBANG – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial menyalurkan bantuan melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Jombang guna mendorong kemandirian ekonomi melalui potensi kerajinan tangan pada pekan ini.
Langkah ini diambil sebagai bentuk upaya negara dalam merangkul kelompok ‘Para Tersayang’ agar memiliki daya tawar ekonomi di tengah keterbatasan akses lapangan kerja formal.

Namun, pendekatan pemberdayaan yang berbasis pada bantuan modal dan kerajinan tangan ini kerap mengundang kritik terkait keberlanjutan jangka panjangnya.
Pemberian bantuan alat kerja tanpa disertai jaminan rantai pasok dan akses pasar yang luas dikhawatirkan hanya akan menjadi solusi sesaat yang bersifat karitatif.
Pemerintah seharusnya lebih fokus pada integrasi produk disabilitas ke dalam pasar ritel mainstream daripada sekadar mengadakan pameran seremonial.

Efektivitas program ATENSI di lapangan menuntut pengawasan ketat agar tidak hanya menjadi agenda rutin birokrasi tanpa dampak struktural bagi kesejahteraan disabilitas.
Kemandirian ekonomi yang sejati bagi penyandang disabilitas di Jombang memerlukan ekosistem yang inklusif, bukan sekadar ketergantungan pada kucuran bantuan modal dari instansi pemerintah.
Transformasi kebijakan dari pola bantuan menjadi pola kemitraan industri menjadi kebutuhan mendesak yang belum sepenuhnya terlihat dalam program ini.