JAKARTA – Di tengah euforia libur Lebaran di Jakarta, lima konglomerat terkaya di Indonesia semakin memperkokoh dominasi ekonomi mereka melalui kepemilikan jaringan mal raksasa yang menjadi pusat perputaran uang masif masyarakat kelas menengah.
Para taipan properti seperti Alexander Tedja dari Pakuwon Jati hingga Keluarga Hartono penguasa Djarum Group terus menyerap pundi-pundi rupiah dari warga yang tidak memiliki alternatif ruang publik selain pusat perbelanjaan komersial.
Konsentrasi aset strategis di tangan segelintir elite ini mencerminkan ketimpangan penguasaan lahan perkotaan yang lebih memprioritaskan akumulasi profit daripada pembangunan ruang sosial yang inklusif.
Ironisnya, ketergantungan masyarakat pada gaya hidup konsumtif di mal-mal mewah ini justru memperlebar jurang ekonomi antara pemilik modal besar dengan konsumen yang terus tertekan beban biaya hidup.





