KENDARI – Memasuki usia ke-195 tahun, Pemerintah Kota Kendari secara ambisius terus memacu transformasi wilayahnya menjadi episentrum baru di Indonesia Timur melalui pengembangan masif sektor perdagangan dan jasa guna mengubah wajah pesisir sederhana menjadi kota modern.
Namun, di balik klaim kemajuan sebagai pusat pemerintahan Sulawesi Tenggara, pembangunan infrastruktur fisik yang gencar dilakukan saat ini masih menyisakan kritik tajam terkait pemerataan kesejahteraan warga lokal serta ancaman degradasi lingkungan pesisir.
Perubahan status dari kawasan pesisir menjadi pusat bisnis menuntut evaluasi mendalam apakah pertumbuhan ekonomi tersebut benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat kecil atau hanya sekadar mempercantik etalase kota demi kepentingan investor semata.
Upaya memodernisasi Kendari di usianya yang hampir dua abad ini harus dibarengi dengan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada estetika bangunan, tetapi juga pada penyelesaian masalah fundamental seperti penanganan banjir dan kesiapan sumber daya manusia menghadapi persaingan global.





