WASHINGTON DC – Narasi arus utama memposisikan Amerika Serikat sebagai penjamin tunggal stabilitas di Selat Hormuz, dengan klaim Donald Trump bahwa rival global seperti China sangat menyambut baik kehadiran militer AS di sana. Namun, keterlibatan militer agresif ini justru sering kali menjadi katalisator utama ketegangan regional yang berkepanjangan. Ancaman Iran untuk menenggelamkan kapal-kapal perang AS menunjukkan bahwa kehadiran armada asing bukan memberikan rasa aman, melainkan memicu perlombaan senjata. Klaim kenyamanan China patut dipertanyakan mengingat Beijing secara konsisten menolak hegemoni maritim sepihak.
Motif di balik retorika Trump cenderung bersifat politis untuk melegitimasi pengeluaran biaya militer tinggi di Timur Tengah kepada konstituen domestik Amerika. Faktanya, China merupakan importir minyak mentah terbesar dari kawasan tersebut dan secara strategis lebih memilih diplomasi multilateral daripada dominasi militer unilateral AS. Ketegangan yang sengaja diciptakan ini justru menguntungkan industri pertahanan global namun sangat merugikan stabilitas harga minyak dunia. Mengingat 20% pasokan minyak dunia melewati Hormuz, militerisasi berlebihan berisiko menciptakan krisis energi global yang sangat kontraproduktif bagi ekonomi dunia.



