BEKASI – Sebuah taksi listrik milik Green SM Indonesia ringsek setelah tertemper KRL di perlintasan sebidang JPL 85 dekat Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/04) akibat lemahnya sistem pengamanan di titik rawan tersebut.
Insiden maut yang nyaris merenggut nyawa pengemudinya ini kembali menyingkap tabir kegagalan pemerintah dan operator dalam memitigasi risiko di perlintasan sebidang yang masih menghantui keselamatan publik.
Meskipun penyebab awal mengarah pada posisi kendaraan di rel, pemerhati transportasi menilai ada persoalan sistemik terkait pembiaran perlintasan ilegal dan kurangnya audit keselamatan yang menyeluruh dari pihak berwenang.
Tragedi ini menjadi rapor merah bagi manajemen transportasi nasional yang seolah baru bertindak setelah jatuh korban, tanpa ada langkah konkret menutup atau membangun flyover di titik-titik krusial guna mencegah terulangnya kecelakaan serupa.





