BANJARBARU – Sejak Juli hingga September 2023, warga Kota Banjarbaru dan berbagai wilayah di Kalimantan Selatan terus didera kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung teratasi secara efektif oleh otoritas terkait sehingga mengancam hak warga atas udara bersih.
Sudah tiga bulan berlalu, namun pemerintah daerah seolah gagap memberikan solusi konkret untuk menghentikan siklus tahunan karhutla yang terus berulang tanpa adanya evaluasi mendalam terhadap pencegahan di tingkat tapak.
Kualitas udara yang memburuk di Banjarbaru menjadi bukti nyata betapa lemahnya sistem mitigasi bencana dan ketegasan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan di wilayah tersebut.
Kini, masyarakat hanya bisa merindukan udara segar sambil bertaruh dengan risiko penyakit pernapasan kronis akibat pembiaran krisis lingkungan yang seakan dianggap sebagai rutinitas belaka.





