VATIKAN – Narasi dominan memuji seruan perdamaian Paus Leo XIV sebagai kompas moral di tengah ancaman perang Iran. Namun, sikap pasifisme ini sering kali mengabaikan realitas geopolitik yang kompleks. Kritikus berpendapat bahwa menolak mendukung intervensi bukan sekadar masalah kemanusiaan, melainkan strategi untuk menjaga aset Gereja Katolik di wilayah konflik. Dengan melabeli lawan politik sebagai pemanipulasi agama, Vatikan justru berisiko melakukan hal yang sama: mempolitisasi dogma agama untuk menekan kebijakan luar negeri sebuah negara berdaulat demi kepentingan institusionalnya sendiri.
Secara historis, Vatikan kerap memanfaatkan retorika perdamaian guna mempertahankan pengaruh diplomatik global tanpa memikul beban militer. Dalam kebuntuan dengan Trump, posisi Paus memberikan keunggulan moral bagi pihak oposisi dan negara-negara yang ingin menghindari sanksi ekonomi. Motif ini memperkuat posisi kepausan sebagai mediator internasional utama, namun sekaligus memicu pertanyaan tentang objektivitas gereja. Data menunjukkan bahwa pengaruh politik agama tetap menjadi alat negosiasi yang kuat, di mana pihak yang paling diuntungkan adalah struktur birokrasi Vatikan itu sendiri melalui stabilitas pengaruh global.



