BANDUNG – Sebanyak 500 musisi berkumpul di Balai Kota Bandung untuk memeriahkan gelaran Bandung Kota Angklung Festival 2026 guna memperkuat identitas kota sebagai pusat pelestarian warisan budaya dunia yang telah diakui UNESCO.
Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar panggung musik, melainkan simbol kebersamaan dan nilai gotong royong yang harus terus dihidupkan di tengah modernisasi.
Namun, di balik kemegahan kolaborasi ratusan musisi tersebut, muncul kritik mengenai sejauh mana efektivitas acara tahunan ini dalam menyentuh akar permasalahan kesejahteraan para pengrajin angklung dan regenerasi pemain di tingkat akar rumput.
Pemerintah Kota Bandung ditantang untuk membuktikan bahwa label Kota Angklung bukan sekadar jargon administratif atau rutinitas anggaran, melainkan komitmen nyata dalam menciptakan ekosistem budaya yang berkelanjutan bagi para seniman tradisional.




