Pemandu Everest Bertahan Hidup Makan Es: Kritik Atas Keamanan Pendakian

Seorang pemandu gunung di Nepal berhasil bertahan hidup secara ajaib di zona kematian Everest, memicu kritik terhadap standar keselamatan industri pendakian. (Foto: RSS)

KATHMANDU – Seorang pemandu gunung asal Nepal ditemukan merayap turun dengan kondisi memprihatinkan setelah terjebak selama enam hari di lereng mematikan Gunung Everest tanpa bantuan medis segera.

Insiden yang hampir merenggut nyawa ini kembali menyoroti minimnya sistem perlindungan bagi para pekerja lokal di industri pendakian komersial yang ekstrem.

Kepada BBC, ia mengaku terpaksa bertahan hidup hanya dengan mengunyah butiran es dan sisa cokelat di sakunya selama periode hilang kontak tersebut.

Keberhasilan pemandu ini untuk turun secara mandiri memang dianggap sebagai sebuah keajaiban medis dan ketahanan fisik manusia yang luar biasa.

Namun, fakta bahwa seorang profesional bisa terisolasi tanpa deteksi selama hampir satu minggu mencerminkan adanya celah fatal dalam protokol evakuasi dan pemantauan keselamatan pendaki.

Ketergantungan industri pada faktor keberuntungan dibandingkan sistem keamanan yang solid terus mengancam nyawa para pemandu yang menjadi tulang punggung pariwisata Nepal.

Kisah ini tidak seharusnya hanya dilihat sebagai heroisme individu, melainkan sebagai peringatan keras bagi otoritas pendakian untuk memperketat standar keselamatan bagi para pekerja lapangan.

Tanpa reformasi serius, para pemandu akan terus dipaksa bertaruh nyawa di zona kematian demi menyokong bisnis pendakian global yang sangat berisiko.

Hingga saat ini, kondisi kesehatan pemandu tersebut masih dalam pemantauan ketat setelah menjalani upaya bertahan hidup yang sangat ekstrem tersebut.