JAKARTA – Sebanyak 21 museum di seluruh Indonesia resmi meluncurkan program Museum Passport di Jakarta baru-baru ini guna meningkatkan angka kunjungan wisatawan melalui metode pengumpulan cap unik yang interaktif di setiap lokasi.
Namun, inisiatif yang diklaim sebagai cara baru menikmati sejarah ini memicu kritik tajam karena dianggap lebih menonjolkan aspek “gamifikasi” ketimbang upaya serius dalam meningkatkan literasi sejarah masyarakat secara mendalam.
Pengamat menilai bahwa tren berburu cap tersebut berisiko mereduksi nilai edukasi museum menjadi sekadar aktivitas mengejar validasi visual di media sosial tanpa adanya pemahaman substansi atas koleksi yang dipamerkan.
Pihak pengelola ditantang untuk membuktikan bahwa program ini bukan sekadar strategi pemasaran dangkal, melainkan harus dibarengi dengan revitalisasi narasi kuratorial yang mampu menarik minat intelektual pengunjung jangka panjang.





