JAKARTA – Mantan gelandang legendaris Claude Makalele mengaku sulit melupakan atmosfer luar biasa Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) saat membela DRX World Legends melawan Barcelona Legends dalam laga ekshibisi Clash of Legends 2026 di Jakarta.
Namun, di balik pujian setinggi langit sang legenda, terselip kritik tajam mengenai relevansi laga nostalgia tersebut bagi kemajuan fundamental sepak bola Indonesia.
Kehadiran para veteran dunia ini seolah hanya menjadi pelipur lara di tengah minimnya prestasi konkret dan carut-marutnya tata kelola kompetisi domestik yang tak kunjung usai.
Makalele menyoroti antusiasme suporter yang dianggapnya sebagai salah satu pengalaman paling berkesan sepanjang karier purnatugasnya di lapangan hijau.
Akan tetapi, euforia di tribun tidak serta-merta mencerminkan kemajuan fasilitas stadion yang sering kali masih dikeluhkan terkait manajemen arus penonton dan kenyamanan fasilitas pendukung.
Sangat disayangkan jika stadion bersejarah seperti GBK terus dieksploitasi untuk kepentingan komersial promotor tanpa adanya upaya serius dalam peningkatan standar layanan publik yang berkelanjutan.
Penyelenggaraan Clash of Legends 2026 ini membuktikan betapa besarnya pasar sepak bola Indonesia bagi industri hiburan olahraga global.
Pihak penyelenggara dituntut tidak sekadar menjual romantisme masa lalu, tetapi juga wajib memberikan kontribusi nyata bagi pembinaan talenta muda di tanah air.
Tanpa adanya program transfer ilmu yang sistematis, kedatangan bintang kelas dunia seperti Makalele hanya akan berakhir sebagai parade selebriti tanpa dampak signifikan bagi masa depan sepak bola nasional.



