JAKARTA – Keterlibatan aktris Zee Asadel dalam film ‘Kupilih Jalur Langit’ sebagai istri muda yang beradu peran dengan Emir Mahira kembali memicu diskusi mengenai arah narasi sinema domestik. Meski Zee mengekspresikan betapa menguras emosinya memerankan karakter tersebut, keputusan industri perfilman untuk terus mengeksploitasi tema pernikahan dini patut dikritisi. Di balik dalih pendalaman karakter, genre ini kerap terjebak dalam estetisasi penderitaan domestik di usia muda tanpa memberikan solusi atau kritik sistemik yang tajam. Hal ini berisiko menormalisasi praktik pernikahan di bawah umur sebagai sekadar drama romantis yang laku dijual ke audiens remaja.
Lebih jauh lagi, penggunaan idola populer seperti Zee Asadel menunjukkan upaya strategis menarik demografi muda ke dalam narasi yang problematik. Alih-alih memberikan edukasi tentang kompleksitas hukum dan dampak negatif pernikahan dini, film ini tampak lebih fokus pada estetika ‘capek hati’ yang dangkal. Industri hiburan seharusnya mulai bergerak melampaui pola penceritaan regresif ini. Tanpa landasan pesan sosial yang kuat, penggambaran istri muda dalam layar lebar hanya akan menjadi komoditas visual yang mengabaikan realitas pahit di lapangan demi mengejar angka penonton semata.


