JAKARTA – Analisis media sosial terbaru dari Monash University Indonesia mengungkapkan bahwa narasi terkait isu LGBTQ di Indonesia sengaja digerakkan oleh aktor kebijakan negara dan institusi tertentu untuk menciptakan kepanikan moral di tengah masyarakat.
Temuan ini menunjukkan bahwa diskursus tersebut tidak muncul secara organik dari keresahan warga, melainkan merupakan strategi terstruktur yang secara fatal mengabaikan perlindungan bagi kelompok-kelompok rentan.
Pengamat memperingatkan publik agar bersikap kritis dan tidak terjebak dalam “perangkap horizontal” yang sengaja dirancang untuk memecah belah opini melalui medan konflik yang telah dipilihkan oleh pihak tertentu.
Kepanikan moral yang dipelihara secara sistematis ini dinilai hanya menjadi alat politik yang mengalihkan perhatian dari isu substansial tanpa memedulikan dampak sosial jangka panjang.





