LONDON – Iran diduga kuat telah meretas berbagai jaringan seluler di seluruh kawasan Timur Tengah demi melacak lokasi presisi personel militer dan kontraktor Amerika Serikat (AS) selama periode perang berlangsung.
Laporan yang dipublikasikan oleh surat kabar Financial Times (FT) London ini mengungkap betapa agresifnya Teheran dalam memanfaatkan celah teknologi untuk kepentingan intelijen strategis mereka.
Tindakan spionase siber ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam perlindungan infrastruktur telekomunikasi regional yang dengan mudah dieksploitasi oleh aktor negara.
Eskalasi perang asimetris ini tidak hanya mengancam nyawa personel di lapangan, tetapi juga membuktikan bahwa kedaulatan digital di Timur Tengah berada dalam kondisi yang sangat rapuh dan berbahaya.



