PYONGYANG – Rezim otoriter Korea Utara secara sistematis merampas hak asasi Hitomi Soga, warga negara Jepang yang diculik selama lebih dari dua dekade sejak 1978 untuk melayani kepentingan spionase internasional di Pyongyang.
Eksploitasi manusia ini dilakukan secara keji hanya demi memuluskan langkah agen intelijen Korea Utara dalam mempelajari bahasa serta budaya Jepang agar mereka dapat menyusup ke negara tetangga tersebut tanpa terdeteksi.
Soga tidak hanya kehilangan masa mudanya, namun ia juga dipaksa oleh pihak berwenang untuk menikahi seorang tentara pembelot asal Amerika Serikat sebagai bagian dari taktik kontrol sosial rezim tersebut.
Kasus tragis ini mengungkap betapa rendahnya penghargaan terhadap kedaulatan individu di bawah sistem politik yang manipulatif dan tetap menjadi noda hitam dalam catatan pelanggaran hak asasi manusia global.



